Surat Terbuka Seorang Ustadz untuk Presiden Jokowi : 'Jangan Lindungi Ahok'



Kasus dugaan penistaan Al Qur'an yang dilakukan oleh Ahok membuat umat Islam geram, Hingga akhirnya Ustadz Rudi Wahyudi yang ditulis beberapa hari ini menjadi bahan pembicaraan dikalangan publik terkait uneg-unegnya melihat kondisi kekinian yang terjadi di Indonesia.

Surat Terbuka Seorang Ustadz untuk Presiden Jokowi : 'Jangan Lindungi Ahok'


Dalam tulisannya yang singkat tersebut Ustadz Rudi menyinggung manuver politik Presiden Joko Widodo terkait kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Pantauan Islamedia, kamis (10/11/2016), tulisan Ustadz Rudi telah tersebar secara luas di berbagai komunitas Whatsapp Group dan Social Media.

Berikut ini tulisan lengkap Ustadz Rudi Wahyudi yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo.


********


Berapa kali presiden mengatakan tak akan melindungi Ahok ? Berulang kali, semakin diulang justru semakin turun kualitas kebenaran kata-kata tersebut.

Berbalik dengan ucapannya, langkah-langkah politik Jokowi justru terkesan sedang melindungi Ahok mati-matian.


Jokowi sowan ke sana ke mari tapi tak satu pun dari pimpinan aksi diajak bicara. Presiden berusaha mengisolasi para pimpinan aksi dan membuat opini bahwa mereka bukan bagian besar ummat Islam dan bahwa aksi 411 bukanlah aksi ummat tetapi hanya aksi sekelompok orang. Presiden sedang memecah, membelah bambu. Satu sisi diinjak, satu bagian lagi diangkat. 

Tapi presiden lupa, yang sedang dihadapinnya para ulama, mereka bukan orang-orang yang awam, mereka paham sekali apa itu politik. Bahkan Gus Sholah, cucu Kyai Hasyim Asy'ari, mengkritik langkah presiden "buat apa Pak Jokowi berterima kasih pada NU, NU bukan penggerak aksi. Kalau mau terima kasih, berterima kasih lah pada pimpinan2 aksi yang membuat aksi menjadi damai," kira-kira begitu. 

Tidak akan mudah bagi Jokowi mengkooptasi para ulama, sebab para ulama itu bukanlah sekumpulan mahasiswa-mahasiswa yang dulu dia ajak makan lalu dengan itu saja mereka gembira dan berselfie ria. Terbukti, matahari dan bumi (sebutan untuk Muhammadiah dan NU) tidak mau dikooptasi penguasa dan lebih memilih sikap yang selaras dengan perasaan ummat : tegakkan keadilan, penuhi rasa keadilan masyarakat. Mereka tahu, walau mereka tak memimpin aksi, yang turun di lapangan sebagian besar adalah ummat mereka semua. Jokowi gagal memeluk bumi, gagal pula memanah matahari.

Di lain pihak, polisi menebar teror dengan penangkapan-penangkapan dan menebar tuduhan makar. Setali tiga uang, pernyataan kapolri di banyak media tidak menunjukkan sikap netral sebagai penegak hukum, justru lebih banyak yang menilai pernyataan kapolri mirip sebagai pengacara Ahok. Politik pembelaan pemerintah sangat telanjang, vulgar, dan mudah dibaca siapa saja bahkan oleh yang awam sekali pun.

Pak presiden, mengulang-ulang janji tidak akan membuat orang semakin percaya bila bukti-bukti menunjukkan sebaliknya. 

Stop pecah belah ulama, sebab ulama bukan politisi yang mudah dipecah belah oleh anda dan kelompok anda seperti terjadi selama ini. 

Ulama pewaris para nabi dan jangan samakan dengan pasukan nasi bungkus, itu penghinaan sekali. Semakin anda bermain-main, semakin tinggi eskalasi kemarahan ummat dan itu sama saja menciptakan lubang kejatuhan anda sendiri.


Ditulis oleh Ustadz Rudi Wahyudi